Review Superman (2025): Era Baru Man of Steel yang Bikin Heboh Jagat Maya


Jadi, Kita Punya Superman Baru. Cocok Gak Nih? Era Corenswet Dimulai

Babak baru DC Universe (DCU) resmi dibuka, dan sorotan utama tertuju pada sang Man of Steel. Pemilihan David Corenswet sebagai Superman bukan sekadar ganti aktor, melainkan sebuah manuver strategis yang sengaja dirancang untuk mengubah arah DCU. Portrayalnya mendefinisikan ulang sosok Superman di era modern, beralih dari figur dewa yang diagungkan di era sebelumnya menjadi pahlawan yang lebih membumi dan manusiawi.

The Casting Couch: Nyari Cowok ‘Lurus’ di Zaman Sinis

Proses casting Superman kali ini bukan cuma soal mencari aktor yang berwajah tampan dan berbadan kekar. Sutradara James Gunn mencari aktor yang jiwanya selaras dengan citra kepahlawanan yang tulus, sebelum era anti-hero yang sinis merajalela. Gunn mengaku langsung terkesan dengan “pesona yang menyenangkan” dan “selera humor” David Corenswet sejak awal audisi. Bahkan, Gunn dengan akrab menyebut Corenswet sebagai seorang “square” (cowok lurus atau agak kuno) karena seleranya dalam musik, seperti mendengarkan lagu-lagu Dean Martin dan Cole Porter, yang menurut Gunn “sangat Superman”. Pilihan ini terasa pas, mengingat Corenswet sendiri pernah mengaku bahwa memerankan Superman adalah “ambisi tertingginya” pada tahun 2019.  

Pemilihan Corenswet, yang oleh Gunn disebut punya kemiripan dengan Christopher Reeve , adalah sebuah pernyataan. Ini adalah upaya sadar untuk menghadirkan kembali penawar bagi tren pahlawan yang murung dan penuh kecemasan yang mendominasi budaya pop. DC seolah ingin mengatakan bahwa di tengah dunia yang makin sinis, kita butuh pahlawan yang tulus.  

Fisik Jadi Statement: Dari Dewa Turun Kasta Jadi ‘Manusia Biasa’

Perubahan paling kentara adalah bagaimana fisik Superman ditampilkan. Era Henry Cavill dikenal dengan fisik “sempurna terpahat” bak “patung dewa dari Olympus” yang bahkan tidak memerlukan bantalan pada kostumnya. Sebaliknya, Superman versi Corenswet ditampilkan “tidak terlalu mengintimidasi” dan lebih “terjangkau”. Meskipun Corenswet menambah berat badannya sekitar 18 kg untuk peran ini, kostumnya didesain lebih seperti “kain daripada baju zirah,” membuat tubuhnya terlihat “lebih seperti manusia, bukan monumen”. Corenswet sendiri menggambarkan proses “bertumbuh bersama kostum” sebagai sesuatu yang “biasa saja,” sebuah pengalaman yang sangat manusiawi.  

Pergeseran fisik ini adalah metafora visual yang kuat untuk tesis film secara keseluruhan. Ini adalah penolakan tegas terhadap idealisme fisik dewa dari Snyderverse yang terkadang terasa jauh. Dengan menampilkan pahlawan yang kuat namun tidak sempurna secara mustahil, film ini membuat pilihan Superman untuk berbuat baik terasa sebagai tindakan tulus dari karakternya, bukan sekadar sifat bawaan seorang dewa. Perasaan “biasa saja” yang dirasakan Corenswet saat mengenakan kostum adalah perasaan yang ingin ditularkan film ini kepada penonton tentang pahlawannya. Ini adalah sebuah koreksi pasar yang diperhitungkan oleh DC Studios, sebuah respons langsung terhadap kritik bahwa DCEU sebelumnya terlalu “gelap dan suram” dan telah mengasingkan sebagian penonton. Dengan menyajikan Superman yang lebih manusiawi dan baik hati , DC sedang membangun fondasi yang lebih mudah diakses dan menarik secara komersial untuk semesta sinematik barunya.  

Konflik Inti: Kebaikan Jadi Kekuatan Super yang ‘Kuno’

Konflik utama film ini bukan sekadar Superman versus Lex Luthor. Ini adalah pertarungan antara idealisme tulus Superman melawan dunia modern yang sangat sinis. Versi Superman kali ini digambarkan sebagai “perwujudan kebenaran, keadilan, dan cara Amerika; dia adalah kebaikan di dunia yang menganggap kebaikan itu kuno”. Plotnya berpusat pada upaya Superman untuk mendamaikan warisan Krypton dengan didikan manusianya di dunia yang memandang nilai-nilainya sudah ketinggalan zaman.  

Superman di sini tidak sempurna; ia berada dalam sebuah perjalanan pribadi, dan keputusannya dipengaruhi oleh cintanya pada Lois Lane serta persahabatannya dengan pahlawan lain yang menganggapnya naif. Para kritikus mencatat bahwa film ini memperjuangkan kebaikannya tanpa sinisme dan berfokus pada belas kasihnya. Ia bekerja keras untuk menyelamatkan semua orang, bahkan seekor tupai, dan mencegah kerusakan kolateral. Ini membingkai ulang kekuatannya: kekuatan fisiknya menjadi nomor dua setelah welas asihnya. Film ini seolah berargumen bahwa di era anti-hero dan ambiguitas moral, menjadi baik tanpa malu-malu adalah tindakan paling radikal dan heroik dari semuanya.  

The Vibe Check: Selamat Datang di Dunia Komik James Gunn yang Ajaib

Bagian ini akan membedah estetika dan gaya penyutradaraan film secara keseluruhan. Kita akan melihat bagaimana sentuhan khas James Gunn yang memadukan humor, hati, dan keanehan menciptakan dunia “komik yang hidup,” sambil juga menelaah kritik paling umum: bahwa film ini terasa terlalu padat dan nadanya tidak konsisten.

The Gunn-aissance: Nolak Estetika Gelap dengan Pesta Warna

Para kritikus memuji film ini karena berhasil membawa kembali “kesenangan” ke dalam film Superman, sangat kontras dengan film-film era Snyder yang dianggap “terlalu serius”. Estetikanya digambarkan sebagai “penuh warna,” “kekacauan berlapis permen,” dan seperti “buku komik yang hidup dan bernapas”. Gaya Gunn adalah “perpaduan tunggal antara aksi epik, humor, dan hati”. Film ini juga sangat terinspirasi dari komik “era Silver Age yang kampungan” dan sepenuhnya merangkul keanehan dunia komik tanpa mencoba membuatnya terasa realistis.  

Ini bukan sekadar palet warna yang lebih cerah; ini adalah pergeseran filosofis total. Pendekatan Gunn bersifat aditif, merangkul absurditas luar biasa dari materi sumbernya (anjing super, manusia yang bisa berubah bentuk, dimensi saku) alih-alih mencoba mengurangi atau meminta maaf atasnya. Ini adalah momen “percaya pada materi sumber” dari DC, sebuah program tandingan langsung dari era dekonstruksi sebelumnya.

The Ensemble: Dunia yang Udah Siap Tempur

Film ini langsung membawa penonton ke tengah-tengah aksi, melewatkan cerita asal-usul yang sudah usang dan menyajikan dunia di mana para pahlawan dan penjahat sudah mapan. Keputusan ini menunjukkan kepercayaan diri terhadap pemahaman penonton akan karakter tersebut. Jajaran pemainnya sangat besar, tidak hanya menampilkan kru Daily Planet, tetapi juga “Justice Gang” (Green Lantern, Mister Terrific, Hawkgirl), Metamorpho, dan The Engineer. Film ini memang dirancang sebagai pembuka “Chapter One: Gods and Monsters” dari DCU.  

Strategi ini berisiko tinggi namun berpotensi memberikan imbalan besar. Di satu sisi, dunia terasa langsung kaya dan hidup. Di sisi lain, hal ini memicu kritik utama terhadap film tersebut. Inilah diferensiasi merek yang coba dibangun oleh DCU baru. Dengan memasukkan karakter-karakter eksentrik seperti Metamorpho yang “melankolis dan termutilasi” atau Guy Gardner yang “kasar” , Gunn secara sengaja membangun identitas unik untuk DCU yang condong ke arah yang aneh. Ini membedakannya dari Snyderverse yang serius dan MCU yang terkadang terasa formulaik. Keanehan ini menjadi nilai jual unik DCU: jika penonton mencari sesuatu yang berbeda dan lebih tidak terduga, DCU adalah tempatnya.  

Kritik Utama: Kebanyakan Muatan, Gak Rapi, dan Buru-buru?

Kritik yang berulang kali muncul adalah bahwa film ini terasa “terlalu penuh,” “tidak merata,” dan “berantakan”. Plotnya terasa membengkak, dengan terlalu banyak karakter dan alur cerita yang mengganggu fokus cerita utama. Alurnya digambarkan bergerak “dengan kecepatan sangat tinggi,” “kacau,” dan melompat-lompat, sehingga momen-momen emosional tidak sempat meresap. Gunn sendiri mengatakan bahwa ia bekerja keras untuk memangkas film ini menjadi “2 jam yang padat”. Nadanya juga bisa terasa tidak selaras, dengan selipan komedi yang menginterupsi adegan dramatis.  

Inilah ketegangan utama dalam konstruksi film ini. Keinginan Gunn untuk meluncurkan sebuah semesta berbenturan langsung dengan kebutuhan untuk menceritakan kisah yang fokus dan beresonansi emosional tentang satu karakter. Perasaan “terlalu penuh” adalah konsekuensi langsung dari mandat gandanya: sebagai film Superman yang berdiri sendiri dan sebagai prolog untuk seluruh DCU. Cacat yang paling sering disebut pada film ini—narasinya yang membengkak dan kacau—bukanlah kegagalan unik film ini, melainkan masalah sistemik yang melekat pada model “cinematic universe” modern. Film ini dipaksa untuk melayani dua tuan: menceritakan kisah Superman yang menarik dan pada saat yang sama meletakkan dasar bagi selusin proyek masa depan.

Misi Utama & Musuh Bebuyutan: Haters, Kloning, dan Daddy Issues

Bagian ini akan mengurai narasi inti film, dengan fokus pada motivasi dan penggambaran para penjahatnya, Lex Luthor dan Ultraman, serta plot twist kontroversial yang mendefinisikan ulang warisan Krypton Superman.

Si Jenius Modern: Lex Luthor Versi Nicholas Hoult yang Julid dan Mirip Tech-Bro

Lex Luthor versi Nicholas Hoult digambarkan ulang sebagai “miliarder teknologi tipe Elon Musk” dan “ahli propaganda”. Motivasi utamanya adalah kebencian murni terhadap Superman karena memiliki kekuatan luar biasa tetapi tidak sejalan dengan keyakinan Luthor sendiri. Ia digambarkan sebagai sosok yang “obsesif, gigih, dan tanpa henti”. Penerimaan penggemar dan kritikus terbelah: beberapa menganggapnya sebagai “penggambaran Lex terbaik yang pernah ada,” ancaman nyata yang “picik dan kejam” , sementara yang lain merasa ia “konyol,” “satu dimensi,” dan seperti “penjahat kartun”. Ciri khasnya adalah menjadi “Manusia Paling Julid dalam Sejarah”.  

Rencananya melibatkan penciptaan dimensi saku dengan monyet-monyet yang dikendalikan pikirannya untuk melakukan shitposting demi menjebak Superman. Ini adalah puncak keanehan khas James Gunn, sebuah pilihan kreatif yang akan membuat penonton senang atau justru merasa aneh. Kritik bahwa rencananya “konyol” atau “kartunis” mungkin meleset dari sasaran. Penggunaan “monyet shitposting di dimensi saku” adalah cerminan satir tentang bagaimana kejahatan di dunia nyata sering kali bermanifestasi saat ini: melalui media disinformasi online yang absurd dan kacau, yang meskipun demikian memiliki konsekuensi dunia nyata yang menghancurkan. Gunn tidak sedang bersikap konyol tanpa alasan; ia menyindir sifat kejahatan abad ke-21.

The Twist: Ternyata Bokap Lo Penjajah, Bro

Sebuah plot twist besar di pertengahan film mengungkapkan bahwa paruh kedua pesan Jor-El dan Lara, yang rusak dalam perjalanan, bukanlah pesan harapan, melainkan perintah bagi Kal-El untuk “menaklukkan Bumi dan mengambil istri sebanyak yang diperlukan untuk memulihkan ras Krypton”.  

Twist ini disiarkan ke seluruh dunia oleh Luthor, yang membuat opini publik berbalik melawan Superman. Ini adalah penyimpangan besar dari sebagian besar cerita Superman dan menjadi titik perdebatan bagi banyak penggemar, yang merasa hal itu merusak citra asal-usul Superman yang penuh harapan.  

Ini bisa dibilang pilihan naratif paling berani dan memecah belah dalam film ini. Ini mengubah konflik internal klasik Superman (Krypton vs. Bumi) menjadi mimpi buruk humas dan krisis identitas. Ini memaksa dia—dan penonton—untuk menghadapi gagasan bahwa warisan biologisnya adalah warisan imperialisme. Twist ini adalah mesin yang kuat untuk tema film tentang “memilih ingin menjadi siapa” , tetapi itu datang dengan harga mengubah secara fundamental citra Jor-El yang selama ini dicintai dan baik hati. Ini adalah upaya yang disengaja untuk menyuntikkan kritik pasca-kolonial modern ke dalam DNA karakter yang diciptakan di era yang lebih nasionalistis, memaksa sebuah perhitungan modern dengan slogan “kebenaran, keadilan, dan cara Amerika.”  

Bos Terakhir: Melawan Cerminan Jahat Diri Sendiri

Klimaks film ini menampilkan pertarungan Superman melawan Ultraman, tiruan dirinya yang diciptakan oleh Luthor. Pertarungan tersebut digambarkan sebagai “panjang dan penuh kekerasan,” berakhir dengan Superman menjebak Ultraman di dalam sebuah bus yang ditarik ke dalam lubang hitam. Beberapa penonton mempertanyakan apakah Superman membunuh Ultraman dan tidak menunjukkan penyesalan, yang bertentangan dengan karakterisasinya.  

Penggunaan klon jahat adalah kiasan superhero klasik, yang memungkinkan manifestasi harfiah dari konflik batin sang pahlawan. Superman tidak hanya melawan tandingan fisiknya; ia melawan apa yang bisa terjadi padanya jika ia mengikuti pesan sesat orang tuanya. Resolusinya—apakah itu dilihat sebagai kekalahan yang cerdas atau pembunuhan di luar karakter—sangat penting bagi kesan akhir penonton terhadap kode moral Superman baru ini.

Vonis Akhir: DC Sukses Gak Nih?

Bagian penutup ini akan menyintesiskan kekuatan dan kelemahan film, menimbang penerimaan kritis dan penonton, dan memberikan penilaian akhir atas keberhasilannya baik sebagai film mandiri maupun sebagai landasan peluncuran untuk semesta sinematik baru.

Rapor Film: Beda Selera Kritikus vs. Penonton

Film ini meraih kesuksesan kritis, mendapatkan status “Certified Fresh” di Rotten Tomatoes dengan skor sekitar 83-86%. Skor Metacritic-nya berada di angka 68, yang masuk kategori “Umumnya Disukai,” menunjukkan penerimaan yang positif tetapi lebih beragam dari para kritikus papan atas. Namun, skor penonton sangat tinggi, mencetak rekor 95-96% di Rotten Tomatoes.  

Perbedaan antara kritikus dan penonton ini sangat menarik. Kritikus, meskipun sebagian besar positif, lebih peka terhadap kelemahan struktural film—plot yang “terlalu penuh,” nada yang “tidak merata,” dan alur yang terburu-buru. Sebaliknya, penonton merespons secara luar biasa terhadap inti emosional film, nadanya yang penuh harapan, para pemeran utama yang karismatik, dan kembalinya ke Superman yang lebih klasik dan “mirip komik”. Bagi penonton umum, “vibe” film ini mengalahkan ketidaksempurnaan strukturalnya.  

Warisan Film: Gimana Posisinya Dibanding Film Lain?

Secara kritis, film ini (RT 86%) melampaui Man of Steel (56%) dan Superman Returns (74%), menjadikannya film Superman live-action yang paling diakui dalam beberapa dekade terakhir. Film ini sering dibandingkan secara positif dengan penceritaan yang tulus dari film  Spider-Man karya Sam Raimi dan optimisme klasik  Superman (1978) karya Christopher Reeve , sambil dianggap sebagai penawar yang diperlukan untuk era Snyder. Dengan mencapai skor kritis yang kuat dan skor penonton yang luar biasa, film ini secara efektif telah mematahkan “kutukan Superman” yang telah menghantui adaptasi sinematik karakter tersebut pasca-1980.  

Masa Depan: Pondasi Harapan (dan Keanehan)

Film ini dipandang sebagai “awal yang bagus” dan peluncuran yang “menjanjikan” untuk DCU baru. Film ini berhasil memperkenalkan sejumlah karakter untuk proyek masa depan tanpa terasa  

terlalu seperti fan service belaka. Perasaan yang luar biasa dari ulasan positif dan reaksi penggemar adalah keinginan untuk melihat lebih banyak dari dunia dan karakter-karakter ini.  

Meskipun memiliki kekurangan, film ini mencapai misi utamanya: membuat orang kembali bersemangat tentang masa depan film DC. Film ini menetapkan arah tonal dan tematik yang jelas—yang berakar pada harapan, kemanusiaan, dan sentuhan keanehan khas Gunn. Film ini telah berhasil “menghidupkan kembali” kecintaan terhadap karakter dan merek tersebut.  

Kesimpulan

Superman (2025) adalah sebuah film yang kompleks, berantakan, namun pada akhirnya berhasil. James Gunn berhasil menyuntikkan kembali hati dan harapan ke dalam ikon terbesar DC, menciptakan sebuah film yang terasa segar, relevan, dan yang terpenting, menyenangkan. David Corenswet adalah Superman untuk generasi baru—kuat namun mudah dijangkau, idealis namun tidak naif. Meskipun plotnya terasa terlalu padat karena ambisinya untuk membangun semesta, inti emosionalnya—tentang seorang pria baik yang mencoba melakukan hal yang benar di dunia yang rumit—bersinar terang.

Film ini mungkin tidak sempurna, tetapi berhasil dalam tugas terberatnya: membuat penonton percaya pada Superman lagi. Dan di tengah lanskap sinematik yang sering kali didominasi oleh sinisme, itu sendiri adalah sebuah kekuatan super. DCU telah memulai perjalanannya dengan langkah yang mantap dan penuh harapan.

Referensi:

  1. Meet David Corenswet, cinema’s new Superman, https://apnews.com/article/superman-david-corenswet-summer-movie-preview-28021942374758920088a7e5891855e8
  2. See the 2025 Superman Cast Side-by-Side with the Original Stars Who Played Their Characters – People.com, https://people.com/see-the-superman-2025-cast-vs-their-original-characters-11770576
  3. Movie Review: ‘Superman (2025)’ is Pure Comic Book Bliss | InSession Film, https://insessionfilm.com/movie-review-superman-2025/
  4. How 85 years of Superman adaptations have reshaped the look of …, https://timesofindia.indiatimes.com/etimes/trending/how-85-years-of-superman-adaptations-have-reshaped-the-look-of-the-worlds-most-iconic-superhero/articleshow/122455572.cms
  5. Superman (2025) Discussion Megathread! : r/DCcomics – Reddit,https://www.reddit.com/r/DCcomics/comments/1lv88pk/superman_2025_discussion_megathread/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *